Tips Agar Kamar Mandi Semakin Nyaman

Tips Agar Kamar Mandi Semakin Nyaman

Mungkin karena keterbatasan teknologi, maka Kamar Mandi dan terutama WC jaman dulu dibangun di bagian belakang rumah. Bahkan tidak jarang keberadaan Kamar Mandi dan WC (KM/WC) diletakkan terpisah dari bangunan rumah induk Banyak generasi Baby-boomers yang mengalami situasi ini. Tidak heran kalau seseorang akan melakukan ritual buang air kecil atau besar, biasanya kalimat santun yang digunakan: “Maaf saya mau ke belakang”. Perkembangan Desain dengan teknologi terkini membuat keberadaan KM/WC tdak lagi harus disembunyikan di belakang. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, toilet juga merupakan salah satu tempat yang wajib di aliri listrik. Bayangkan ketika anda pulang kerja dan kemudian mandi dan tib tiba mati listrik ? tentu akan sangat todak nyaman bukan? untuk itulah dibutuhkan genset sebagai cadangan sumber listrik. Genset sendiri banyak macamnya, salah satunya adalah genset perkins. Harga genset perkins bisa dibilang agak mahal, namun kualitasnya termasuk no 1 di dunia dan genset perkins termasuk genset yang awet

Tataletaknya bahkan bisa dirancang dimana saja. Maka Kidz jaman now lebih banyak menggunakan istlah: “Saya mau toilet dulu, ya” sekarang sudah umum digunakan. Ihwal buang hajat menjadi fenomena menarik di Indonesia, ketka istlah “maaf saya mau ke belakang” untuk menyatakan hasrat buang hajat, tdak hanya bersifat denotatf, tetapi bahkan menjadi bersifat konotatf oleh sebagian besar orang. Kalimat tersebut bersifat ets, untuk menyatakan keinginan melakukan sesuatu yang dianggap atau bersifat tdak santun apabila dinyatakan dengan terbuka. Mungkin karena berada di atau ke “belakang” perkembanganpun menjadi mundur, tdak terawasi, tdak terawat bahkan jorok. Kata “belakang” membuat fasilitas ini menjadi “terbelakang” di Indonesia. Hal ini juga dikarenakan budaya ‘ke belakang’ kita agak tertnggal, mengingat 480 tahun sebelum Masehi (SM) bangsa Persia telah mengenal baik teknologi pembuang limbah ini. Bahkan bangsa China mengenal dua macam huruf kanji untuk menyatakan keberadaan WC, yaitu berbunyi ‘WC kering’ dan ‘WC basah’ sejak 4400 tahun yang lalu (2500 SM). Water-closet sendiri baru ditemukan pada abad XVI (tepatnya 1690) oleh seorang Inggris bernama Hellia. Tetapi pemilik patent untuk produk dan sistem water-closet adalah Alexander Cummings pada tahun 1775.

Berbeda halnya dengan kondisi bangsa ini dalam menyikapi budaya ‘ke belakang’, bahkan hampir tdak ada literatur dalam khazanah arsitektur tradisional yang membahas arsitektur ‘ke belakang’ ini. Untuk ihwal mandi, Bali memiliki ke-khas-an dengan beberapa bangunan tradisionalnya (di Pura dan fasilitas di Banjar) yang menyediakan fasilitas untuk warganya. Bahkan budaya mandi beratap langit a la Bali, telah menjadi suguhan menarik di berbagai hotel berbintang sebagai fasilitas andalan yang berkarakter Bali. Istana Raja-raja juga memiliki kekhasan tersendiri sepert halnya Tempat mandi Sultan Taman Sari di Yogyakarta. Masalah ‘buang hajat’ dan mandi bukan urusan di ‘belakang’ saja, tetapi keberadaannya sama-sama pentng sepert masalah sosial lainnya. Masalah ini menyangkut juga masalah pendidikan, kesehatan, bahkan menyangkut pula aspek keterbelakangan dan kemiskinan, juga kebiasaan.

Dampaknya pada lingkungan hidup juga sangat besar untuk kemanusiaan. Di Kota-kota besar Indonesia karya rancang bangun KM-WC sudah tdak lagi sekedarnya. Karya rancang bangun ruang KMWC sudah penuh dengan inovasi dan kreatftas baru. Desaindesain baru KM-WC rumah Tinggal Pribadi dengan pirant teknologi mutahir di dalamnya sudah banyak digunakan. KM-WC tdak lagi sekedar ruang dengan sekedar fungsi primer aktvitas utamanya. Kenyamanan tdak lagi standar untuk jasmani saja, tetapi banyak unsur yang sudah dimasukan ke penataan ruang dalamnya, tetapi unsur lain sepert musik, video, alat-alat Gym sudah menjadi bagian pentng. Di Pusat-pusat pertokoan modern, pengelola juga sadar bahwa fasilitas Toilet tdak boleh lagi sekedarnya. Kenyamanan fasilitas toiletnya menjadi bagian dari keberadaan Mall itu sendiri. Demikian juga fasilitas ini semakin diperhatkan oleh Pengelola Hotel, Café, Resto juga bangunan-bangunan publik lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *