Wisata Kampung Sewu Payung di Malang Yang Unik

kampung sewu

Satu sekali lagi kampung wisata dengan konsep tematik lahir di Kota Malang yang terkenal dengan destinasi wisatanya. Sesudah Kampung Warna-Warni Jodipan, Kampung Tridi, Kampung 3G (Glintung Go Green), tempo hari (29/10) Wakil Wali Kota Malang Sutiaji berbarengan warga Lowokpadak, Gang Taruna III, RW 03, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, me-launching Kampung Sewu Payung.

Sesuai sama namanya, mulai mulut gang sampai ujung kampung, pengunjung disajikan sangat banyak payung dengan bermacam warna. Tidak cuma suguhan payung, pengunjung juga di beri peluang belajar bikin payung memiliki bahan kertas dari pakar payung, Rasimun. Di kampung tersebut, Rasimun melalui usaha bikin payung kertas sepanjang seputar 50 tahunan.

Wakil Wali Kota Malang Sutiaji menyebutkan, salut atas kreatifitas warga Kampung Lowokpadak. Di waktu payung tradisionil dari kertas yang mulai punah, warga berupaya menghidupkan sekali lagi dengan membangun Kampung Sewu Payung. ”Atas nama Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, kami berterima kasih atas gagasan serta kreatifitas warga Gang Taruna RW 03, Pandanwangi, yang mau ikut serta meningkatkan pariwisata Kota Malang, ” kata Sutiaji.

Dahulu, Kampung Lowokpadak, Gang Taruna, RW 03, itu memanglah jadi sentra produksi payung kertas. Tetapi, berkurangnya jumlahnya keinginan bikin industri itu jadi meredup. Produksinya juga jauh turun. Bahkan juga, perajin yang dulunya sampai 15 kepala keluarga (KK), sekarang ini tinggal satu orang, yaitu Rasimun.

Dalam peluang ini, Sutiaji juga mengapresiasi prinsip master paying kertas Rasimun yang mau kembali menghidupkan kejayaan kampung itu jadi sentra produksi payung sekalian tujuan pariwisata. Dia juga meluangkan untuk berkunjung ke segera galeri pembuatan payung punya Rasimun. Waktu ini tengah di gelar aktivitas workshop kursus bikin payung tradisionil yang melibatkan karang taruna, beberapa pelajar, ibu rumah-tangga, serta orang-orang umum yang lain.

Rasimun mengakui sangatlah bangga dengan pembukaan Kampung Seribu Payung itu. Lahirnya kampung itu bikin keinginannya menghidupkan sekali lagi industri payung kertas dapat jadi fakta. Sampai kini dia berupaya membawa warga yang lainnya untuk tekuni bikin payung kertas. Tetapi, sedikit yang bersedia. ”Saya dahulu belajar dari orang Sidoarjo yang geser kesini, ” kata pria berumur 90 th. itu.

Walau jumlahnya konsumen payung kertas turun tajam, Rasimun berupaya bertahan. ”Saya cuma dapat bikin payung hingga bertahan sampai saat ini, ” kata peraih penghargaan dari Keraton Surakarta lantaran berkelanjutan melestarikan bikin payung kertas.

Humas Kampung Sewu Payung Dimyati menyebutkan, warga terasa tergugah karenanya ada payung kertas dari Rasimun hingga mau menghidupkan kembali. Pihaknya berencana 10 hari berbarengan RW serta karang taruna untuk mengadakan workshop bikin payung kertas. ”Kami mulai membuat manajemen supaya kelak bakal memberdayakan warga yang mau jadi perajin payung kertas, ” katanya.

Dengan tujuan 3 bln., Kampung Sewu Payung bakal berkembang cepat dengan bekerja bersama dengan corporate social responsibility (CSR) suatu perusahaan untuk mengecat serta membuat cantik dekorasi dinding kampung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *